22 Desember 2022 - 10.59
Hari ini aku sedang berada di sebuah lobi perkantoran besar di Jakarta Selatan. Namun, lobi ini tidak sepenuhnya berada di dalam gedung. Tempatku menunggu justru terbuka di luar, membiarkanku berdiri langsung di bawah terik matahari yang perlahan semakin menyengat.
Dari tempatku berdiri, jalan besar terbentang di hadapan mata, menghubungkan kawasan-kawasan sibuk di sekitar Lebak Bulus. Kendaraan berlalu-lalang tanpa henti, seolah setiap orang di dalamnya sedang mengejar sesuatu.
Di atas jalan, tiang-tiang tinggi menjulang menyangga jalur kereta yang sesekali dilewati rangkaian gerbong. Tak jauh dari sana, jalan tol ikut membentang, menambah kesan bahwa tempat ini memang berada di salah satu titik yang begitu strategis di Jakarta Selatan.
Sungguh, gedung ini berada di tempat yang ramai dan mudah dijangkau dari berbagai arah.
Tepat di depanku, beberapa tiang bendera berdiri berjajar dengan rapi. Aku tidak tahu pasti untuk apa tiang-tiang itu digunakan, tetapi melihatnya, aku membayangkan tempat ini mungkin sesekali menerima kunjungan tamu dari luar negeri. Barangkali suatu hari nanti bendera-bendera berbagai negara akan berkibar di sana, menyambut orang-orang penting yang datang ke gedung ini.
Namun hari ini, di antara gedung yang megah dan tiang-tiang bendera itu, aku hanya seorang pengantar yang sedang menunggu pelanggan turun.
Lantai hitam mengilap yang kupijak terasa begitu mewah. Cahaya matahari memantul di permukaannya, sementara panas perlahan mulai terasa di kulit. Ada sesuatu yang cukup kontras dari pemandangan ini.
Di tempat yang begitu megah, aku berdiri dengan pakaian kerja dan membawa makanan yang harus segera kuserahkan kepada seseorang.
Aku hanya menunggu.
Sesekali mataku tertuju pada pintu gedung, berharap seseorang segera keluar dan memanggil namanya sendiri dari dalam pikiranku.
Di sekelilingku, kehidupan kota terus bergerak. Kereta datang dan pergi. Kendaraan memenuhi jalan. Jalan tol membawa orang-orang menuju tempat yang bahkan mungkin tidak pernah kuketahui.
Sementara aku tetap berdiri di tempat yang sama, menunggu satu orang turun untuk mengambil makanan yang kubawa.
Mungkin memang seperti inilah caraku mengenal Jakarta.
Bukan dari balik jendela gedung tinggi, bukan dari kursi kantor yang nyaman, dan bukan pula dari tempat-tempat yang sering muncul di foto orang-orang.
Aku mengenalnya dari trotoar, lobi terbuka, panas matahari, suara kendaraan, dan tempat-tempat yang kudatangi hanya karena seseorang sedang menunggu pesanannya.
Dan di antara semua kemegahan itu, aku kembali menyadari sesuatu:
Sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi.
Ia juga dibangun oleh orang-orang kecil yang setiap hari bergerak di bawahnya.

0 Comments