Suasana toko kue mewah ini memang menjadi salah satu hal yang selalu kutunggu setiap kali mendapatkan pesanan dari tempat ini.

Begitu masuk, pandanganku langsung tertuju pada deretan kue yang tersusun rapi di balik etalase kaca. Berbagai bentuk dan warna terpajang dengan begitu sempurna, sampai-sampai hanya dengan melihatnya saja sudah cukup membuatku membayangkan bagaimana rasanya. Entah benar-benar seenak yang terlihat, atau memang begitulah cara sebuah toko kue menggoda orang-orang yang datang.

Di bagian kasir, meja berlapiskan marmer menambah kesan elegan pada ruangan. Permukaannya yang mengilap memantulkan cahaya lampu, seolah setiap sudut tempat ini memang dirancang agar terlihat lebih mewah dari sekadar sebuah toko kue.

Namun ada satu hal yang cukup menarik perhatianku.

Sebuah lukisan hitam putih tergantung di salah satu sisi ruangan. Aku tidak tahu persis siapa atau apa yang digambarkan di dalamnya. Sepertinya seorang seseorang sedang mengendarai atau menaiki sebuah mobil klasik dari masa lampau. Warnanya yang hanya hitam dan putih justru membuat lukisan itu terasa begitu cocok dengan suasana toko.

Semuanya seperti memiliki tempatnya masing-masing.

Kue-kue di balik kaca.
Meja marmer di depan kasir.
Lukisan hitam putih di dinding.
Dan aroma manis yang seolah menetap di udara.

Di tengah semua itu, aku kembali datang bukan sebagai seseorang yang hendak membeli kue untuk dirinya sendiri.

Aku datang untuk mengantarkan pesanan orang lain.

Namun mungkin justru karena itulah aku punya kesempatan untuk memperhatikan tempat-tempat seperti ini lebih lama.

Hari ini, tempat itu adalah The Harvest.