22 Desember 2022 - 10.41 WIB

Pagi perlahan beranjak menuju siang. Saat ini aku sedang berada di salah satu rumah sakit di kawasan Lebak Bulus. Matahari mulai meninggi, dan udara yang sejak tadi terasa biasa saja perlahan berubah menjadi hangat, bahkan sedikit menyengat.

Mungkin karena itu pula, pilihan pelanggan untuk memesan es kopi siang ini terasa begitu tepat. Setidaknya, ada sesuatu yang dingin untuk menemani panas yang mulai menggantung di udara.

Di sudut kanan tempatku berdiri, tampak sebuah kedai kopi yang cukup terkenal. Namanya terdengar seperti sebuah ungkapan kasih sayang. nama yang entah mengapa belakangan ini begitu sering ditemukan pada kedai-kedai kopi. Seolah-olah kopi dan cinta memang sengaja diciptakan untuk berjalan beriringan.

Aku sempat bertanya-tanya, sejak kapan nama-nama yang berhubungan dengan cinta menjadi begitu akrab dengan kedai kopi? Mungkin karena keduanya sama-sama memiliki cara untuk membuat seseorang bertahan lebih lama dari yang seharusnya.

Kedai itu sendiri cukup unik. Bangunannya bukanlah toko besar dengan dinding dan pintu kaca seperti kebanyakan kedai kopi, melainkan sebuah bekas kontainer yang dicat ulang, kemudian dihias sederhana dengan nama kedai yang terpampang di bagian atasnya. Sederhana, tetapi justru memiliki daya tariknya sendiri.

Di sekitar sana, beberapa pengantar lain turut menunggu. Ada yang mengenakan pakaian berwarna hijau, ada pula yang berbaju oranye. Mereka berdiri atau duduk sambil sesekali melihat ke arah kedai, menunggu nama mereka dipanggil.

Di tempat seperti ini, setiap orang seakan sedang menunggu sesuatu.

Ada yang menunggu kopi.
Ada yang menunggu makanan.
Ada yang menunggu pesanan selesai.

Dan mungkin, tanpa mereka sadari, ada pula yang sedang menunggu hari ini berlalu agar bisa kembali pulang.