Di bawah kelabu langit Antasari yang merayap perlahan, aspal basah ini bukanlah sekadar jalan, melainkan bentangan janji yang tak pernah surut.
Seberang sana, ruko bercat cokelat hangat berdiri teguh, rona warnanya menantang suramnya awan, seperti pelukan terbuka bagi siapa saja yang ingin mencuri jeda di tengah deru kota.
Di trotoar ini, genangan kecil alih-alih meratapi basah, justru menangkap secarik pantulan langit di permukaan air yang tenang, mengingatkan bahwa di balik mendung, masih ada ruang biru yang menanti.
Bendera kecil yang berkibar lemah ditiup angin, adalah tarian keyakinan yang tak pernah putus, mengisyaratkan ketahanan yang lembut. Di setiap retakan trotoar, ada kehidupan kecil yang tumbuh, menegaskan bahwa harapan bisa bersemi di mana saja. Kehidupan di sini tidak berhenti; ia mengalir lurus seperti jalan ini, membawa seribu kemungkinan esok yang lebih cerah dari hari ini.

0 Comments