Tanggal: 17 Desember 2022, 14.01 WIB
Siang itu, langit Jakarta tampak berwarna biru pucat dengan semburat awan tipis yang menutupi sebagian cahaya matahari. Deretan menara tinggi Apartemen Kalibata City menjulang gagah, seakan menjadi saksi bisu denyut kehidupan urban yang tidak pernah berhenti. Dari kejauhan, jendela-jendela kecil yang berjejer rapi seperti mosaik modern, masing-masing menyimpan cerita dari penghuninya—ada yang sibuk bekerja dari balik layar laptop, ada pula yang tengah menyiapkan makan siang sederhana untuk keluarga.
Suasana di pelataran apartemen terasa hidup. Beberapa kendaraan terparkir rapi di sisi jalan, sementara seorang pengemudi ojek online tampak melaju perlahan dengan motor, mungkin baru saja mengambil atau mengantarkan pesanan makanan. Kehadirannya menambah warna pada dinamika sehari-hari di kawasan hunian padat ini—di mana layanan cepat dan praktis menjadi bagian penting dari ritme kota.
Di sisi lain, pepohonan hijau dan tanaman hias memberikan kontras yang menyejukkan mata di tengah dominasi beton dan baja. Sekilas, hembusan angin sore membawa aroma samar dari jajanan kaki lima yang kerap berjejer di sekitar area ini, mengingatkan bahwa meski modern, kehidupan di Kalibata City tetap berpadu erat dengan nuansa keseharian khas Jakarta.
Pemandangan ini bukan sekadar potret gedung tinggi, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana kehidupan perkotaan terus berdenyut dalam harmoni antara hiruk pikuk modernitas dan sentuhan sederhana kehidupan sehari-hari.
0 Comments