21 Desember 2022, 10.04 WIB
Pagi itu, saya berdiri di depan sebuah jalur pejalan kaki yang memikat mata. Hamparan bata merah yang tersusun rapi membentang lurus, seolah menjadi undangan untuk melangkah maju menuju sebuah dunia modern yang berkilauan. Jalur ini berakhir pada lintasan merah bercat tegas yang memotong jalan, mengarahkan langkah-langkah kita menuju sebuah bangunan megah dengan dinding kaca biru yang menjulang tinggi: PIM 3 Office Tower.
Cahaya matahari pukul sepuluh pagi memantul indah di permukaan kaca, menciptakan kilauan biru yang menyatu dengan langit. Dari kejauhan, logo HSBC yang terpasang di fasad bangunan menambah kesan internasional, mengingatkan kita pada denyut kehidupan bisnis global yang berpusat di kawasan ini. Namun, di balik kesibukan korporasi, suasana di sekitar tetap menghadirkan kesejukan. Pohon-pohon palem menjulang ramping, melambai pelan diterpa angin pagi, sementara semak hijau yang terawat rapi menghadirkan nuansa tropis yang menenangkan.
Ada harmoni menarik yang tersaji di sini: perpaduan antara kerasnya ritme perkantoran dengan lembutnya lanskap taman yang dirancang penuh perhatian. Jalur pedestrian terasa nyaman dan ramah, membuat siapa saja yang berjalan tidak hanya sekadar berpindah tempat, tetapi juga menikmati perjalanan. Bahkan, aroma dedaunan segar bercampur dengan semilir angin membuat langkah terasa ringan, seakan-akan kita sedang berjalan di antara lorong hijau kota modern.
Momen sederhana di persimpangan ini menyuguhkan sebuah cerita: tentang bagaimana sebuah kawasan bisnis bisa tetap menyisakan ruang bagi estetika dan kenyamanan manusia. PIM 3 Office Tower bukan hanya bangunan kaca menjulang, tetapi juga simbol keterhubungan — antara pekerja, pengunjung, dan kota yang terus bergerak maju.
Berdiri di jalur merah ini, saya merasa seperti berada di gerbang dua dunia: dunia natural yang menyejukkan sekaligus dunia modern yang berkilau. Dan di situlah letak daya tariknya — harmoni yang membuat siapapun betah untuk singgah, meski hanya sejenak.
0 Comments