19 Desember 2022, 12.02 WIB
Deskripsi:
Di tengah hiruk pikuk kota, saya singgah di sebuah tempat makan yang membawa nuansa nostalgia: Mie Bandung Kejaksaan 1964. Begitu masuk, suasana sederhana langsung menyapa — kursi plastik putih yang berfungsi ganda sebagai meja, segelas teh manis yang sudah setengah habis, dan kemasan mie instan yang tersisa di atasnya, menciptakan kesan autentik dari sebuah rumah makan rakyat yang apa adanya.
Dari balik meja kasir, papan bertuliskan “No Pork No Lard” menjanjikan kenyamanan bagi semua kalangan. Sebuah lemari pendingin sederhana berisi air mineral dan minuman ringan berdiri di pojok ruangan, sementara bendera merah putih kecil di sisi kasir memberi sentuhan nasionalis yang hangat. Tidak ada kemewahan berlebihan, hanya kesederhanaan yang jujur — dan justru itu yang membuat tempat ini begitu memikat.
Nama “Mie Bandung Kejaksaan 1964” bukan sekadar penanda usia panjang, tapi juga bukti konsistensi rasa yang diwariskan lintas generasi. Saya bisa membayangkan aroma kaldu hangat berpadu dengan wangi bawang goreng renyah yang mengepul dari dapur, membawa sensasi menggugah selera bahkan sebelum mie itu benar-benar tersaji.
Kedai ini seakan mengundang siapa pun untuk berhenti sejenak dari kesibukan, duduk di kursi plastik sederhana, lalu menikmati semangkuk mie yang penuh cerita. Setiap suapan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang perjalanan waktu — dari Bandung hingga ke kota ini, dari masa lalu hingga hari ini.
Bagi pecinta kuliner, singgah di sini rasanya seperti menemukan permata sederhana yang berkilau bukan karena kemewahan, melainkan karena kehangatan dan sejarah yang terkandung dalam setiap mangkuk mie.
0 Comments