Tanggal: 19 Desember 2022, 10.46 WIB
Ada sesuatu yang menenangkan dari suasana kantin sederhana di sudut Cilandak ini. Begitu duduk di salah satu meja panjang berlapis plastik merah dengan tulisan iklan minuman hangat, saya langsung merasakan nuansa khas warung makan Indonesia yang sulit digantikan oleh restoran modern. Atap seng dengan rangka besi merah marun berdiri kokoh, melindungi pengunjung dari teriknya matahari, sementara cahaya pagi yang lembut masuk melalui celah-celah samping, memberi kesan hangat sekaligus teduh.
Di depan, deretan etalase kayu dengan kaca transparan menampilkan sisa-sisa uap dari bubur ayam dan jajanan lainnya. Terdengar suara sendok beradu dengan mangkuk, sesekali diselingi tawa kecil para penjaga kantin yang ramah melayani pembeli. Ada papan menu kuning dengan tulisan mencolok: Bubur Ayam, seolah mengundang siapa pun yang lewat untuk berhenti sejenak dan mencicipi sarapan hangat.
Aromanya sungguh menggoda—paduan gurih kaldu ayam, wangi bawang goreng renyah, dan sesekali semerbak jahe hangat dari seduhan empon-empon yang menjadi andalan minuman di sini. Udara pagi bercampur dengan aroma masakan itu membuat suasana terasa lebih hidup, seakan membawa kita kembali ke kenangan masa kecil saat sarapan di warung dekat rumah.
Meski sederhana, kantin ini menyimpan cerita kecil tentang kebersamaan. Meja panjangnya seakan mengajak orang untuk berbagi, entah dengan teman kantor, sopir angkot yang mampir sebentar, atau mahasiswa yang sedang menunggu kelas siang. Setiap sudut punya kesahajaannya sendiri, membuat siapa pun yang datang merasa akrab, meski baru pertama kali duduk di sini.
Cilandak pagi itu bukan sekadar tentang bubur ayam atau teh hangat, tapi tentang atmosfer yang sulit ditukar: kehangatan, keramahan, dan rasa rumah yang sesungguhnya. Tempat ini mengajarkan bahwa kelezatan tak melulu soal menu mewah—kadang justru hadir dari meja kayu sederhana, semangkuk bubur hangat, dan senyum tulus penjaga kantin.
0 Comments